TEMPO Interaktif, Jakarta
Saat jarum penunjuk bensin sudah mendekati "E", Tempo mengarahkan kendaraan ke pompa bensin di Jalan Tentara Pelajar, yang bersebelahan dengan jalan masuk belakang Hotel Mulia. Pompa bensin itu kecil. Seperti biasa, sekitar pukul 9 pagi, hanya ada tiga atau empat mobil serta beberapa sepeda motor.
Kendaraan diarahkan ke pompa jenis pertamax, yang meski lebih berkualitas, menjelang akhir tahun itu bedanya hanya Rp 300 dibanding premium, yang harganya Rp 4.500. Petugas pengisi, sambil mengambil keran pompa, bertanya, "Mau yang biopertamax, Pak?"
Biopertamax? Ia menunjuk pompa dalam kotak tidak permanen warna hijau, yang diletakkan di samping deretan pertamax. Jadi ini rupanya "bensin" nabati yang disebut-sebut bisa menjadi salah satu obat mengurangi polusi dan impor minyak mentah. Ia menjadi "teman" biodiesel yang sudah lebih dulu beredar untuk mobil berbahan bakar solar.
Indonesia memang terlambat dalam urusan bahan bakar alternatif, termasuk etanol untuk pengganti bensin. Negeri ini kebat-kebit setelah harga minyak dunia melonjak gila-gilaan tahun lalu. Jadi baru akhir tahun lalu muncul bensin dengan kadar etanol sampai 5 persen. Program "etanolisasi" ini menyusul solar, yang juga dengan tambahan bahan nabati dari kelapa sawit (di masa mendatang, ada kemungkinan menggunakan minyak jarak).
Negara yang paling ekstensif dalam penggunaan etanol adalah Brasil. Di negeri itu, hampir setiap pompa bensin menyediakan etanol. Tidak hanya lima persen, di Brasil campuran etanol yang dipakai setidaknya 20 persen.
Negara lain, tak hanya Indonesia, berbondong-bondong mengekor. Presiden Amerika Serikat George W. Bush pekan ini menyatakan akan menjadikan bahan bakar "hijau" makin banyak dipakai dan melipatgandakan penggunaannya dalam beberapa tahun mendatang.
Etanol untuk campuran biopertamax yang dijual di Jakarta--atau biopremium yang dijual di Malang--tidak dibuat sendiri oleh Pertamina. Kalau membuat sendiri, kata Djaelani Sutomo, Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak Pertamina, "Nanti ngambil semua." Saat ini etanol untuk biopertamax dan biopremium dipasok oleh Molindo Raya Industrial, yang memiliki pabrik di Lawang, Malang.
Molindo membuat etanol dengan memanfaatkan limbah pabrik gula, yang banyak tersebar di seputaran Malang, yang lazim disebut tetes. Selain dipakai membuat etanol (atau spiritus), tetes kadang dipakai sebagai bahan baku bumbu masak semacam vetsin.
Tetes itu pada dasarnya gula berbentuk cair, yang tidak lagi bisa "dipaksa" menjadi kristal. Karena sudah berbentuk gula, Molindo tinggal melakukan peragian dan penyulingan untuk mendapatkan etanol.
Di masa mendatang, Molindo berencana mendapatkan etanol bukan dari tebu, melainkan singkong. "Proyeknya di Lampung," kata Sutomo. Seorang anggota staf Molindo mengatakan proyek etanol dari singkong juga dilakukan di tempat lain, yaitu Pacitan, kota kecil di Jawa Timur.
Etanol memang fleksibel. Banyak tanaman yang bisa menghasilkan etanol. Selain tebu dan singkong, tanaman dengan karbohidrat tinggi cocok untuk menjadi etanol.
Gandum, kedelai, atau kentang juga bisa digunakan sebagai bahan baku etanol. Amerika Serikat, misalnya, gencar menghasilkan etanol dari jagung. Brasil, yang paling ekstensif program etanolnya, menggunakan tebu mentah, bukan tetes sisa pabrik gula seperti di Malang.
Jika menggunakan jagung, singkong, atau karbohidrat lain, prosesnya agak panjang. Zat itu mesti diubah menjadi gula terlebih dulu sebelum menjalani proses peragian. Berbeda dengan tetes--yang sudah manis semanis gula--atau tebu, yang cukup diperas saja sudah menghasilkan gula begitu banyak.
Saat ini baru satu pompa bensin di Jakarta yang menyediakan bensin bercampur etanol, meski bulan depan akan bertambah beberapa unit. Di Indonesia, Jakarta adalah kota kedua yang menyediakan bensin bercampur etanol. Kota yang mendapat kehormatan menjadi tempat penjualan bensin nabati pertama adalah Malang, kota tempat pabrik etanol berada. Bensinnya dari jenis premium, capnya ditulis biopremium.
Karena baru satu, tidak aneh, Tempo saat itu sempat terheran-heran.
No comments:
Post a Comment